ADAPTASI FISIOLOGIS TERHADAP KEHAMILAN
1.RAHIM ATAU UTERUS
- Pembesaran uterus : stimulasi kadar hormon estrogen dan progesterone yang meningkat
Terjadi akibat :
• Peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah
• Hiperplasia ( produksi serabut otot dan jaringan fibroelastis baru ) dan hipertropi ( pembesaran serabut otot dan jaringan fibroelastis yang sudah ada )
• Perkembangan desidua
- Uterus, serviks dan istmus melunak secara progresif dan serviks menjadi agak kebiruan ( tanda Chadwick ) : peningkatan aliran darah uteri , edema dan kongesti panggul
- Istmus melunak dan dapat ditekan ( tanda Hegar )
- Serviks melunak ( tanda Goodel ) : vaskularisasi bertambah
- Rahim membesar kearah implantasi janin ( tanda Piskacek )
- Fundus dan Serviks mudah fleksi ( tanda Mc. Donal )
- Kontraksi uterus dirasakan memalui dinding abdomen ( tanda Braxton Hicks ) : kontraksi tidak teratur yang tidak menimbulkan nyeri
2. VAGINA dan VULVA
- Mukosa vagina dan serviks berwarna ungu kebiruan : peningkatan vaskularisasi , peningkatan sensitivitas yang menyolok , meningkatkan keinginan dan bangkitan seksual ( trimester II ) : ( tanda Chadwick )
- Edema & varises vulva : peningkatan kongesti + relaksasi dinding pembuluh darah & uterus yang berat
- Struktur eksterna vulva membesar : peningkatan vaskularisasi, hipertropi badan perineum & deposit lemak
- Cairan berwarna keputihan ( leukore ) : sel epitel vagina tanggal akibat hiperplasia
- PH sekresi vagina menjadi asam : 4 - 6.5 : rentan infeksi vagina , infeksi jamur
3. OVARIUM
- Indung telur mengandung corpus luteum gravidarum : meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta yang sempurna ( 16 minggu )
- Ovulasi terhenti
4. PAYUDARA
- Rasa penuh, peningkatan sensitivitas, rasa geli dan rasa berat di payudara : peningkatan hormon estrogen
- Putting susu dan areola berpigmen : merah muda pada areola
- Hipertropi kelenjar lemak di areola
- Kongesti vena di payudara : peningkatan suplai darah : pembuluh darah di bawah kulit berdilatasi
- Strie di luar payudara
- Pengeluaran ASI belum berlangsung : Prolaktin belum berfungsi , hambatan dari PIH ( Prolaktin Inhibing Hormon)
3. SISTEM TUBUH
a. KARDIOVASKULER
- Hipertropi / dilatasi pada jantung : peningkatan volume darah dan curah jantung
- Penurunan TD : vasodilatasi perifer akibat perubahan hormonal
- Kecendrungan koagulasi lebih besar : peningkatan berbagai faktor pembekuan
- Rentan terjadi trombosis : aktivitas pemecahan dan pelarutan bekuan darah mengalami depresi
b. SISTEM PERNAFASAN
- Kebutuhan Oksigen meningkat : respon terhadap percepatan laju metabolic dan peningkatan kebutuhan oksigen pada jaringan uterus dan payudara
- Ekspansi rongga dada meningkat : peningkatan kadar estrogen : ligamen pada kerangka iga berelaksasi
- Peningkatan kadar estrogen : peningkatan vaskularisasi , kapiler membesar , terbentuk edema dan hyperemia di hidung, faring, laring, trachea, bronchitis , sumbatan pada hidung, hidung berdarah, perubahan suara, peradangan
- Dispnea saat istirahat : kebutuhan nafas meningkat dan peningkatan progesterone dan estrogen : sensitivitas pusat pernafasan terhadap karbon dioksida
- Lemah dan letih : peningkatan aktivitas metabolic
c. SISTEM INTEGUMEN
Perubahan keseimbangan hormon dan peregangan mekanik yang menyebabkan :
- Peningkatan ketebalan kulit dan lemak subdermal, hiperpigmentasi, pertumbuhan rambut dan kuku mengakibatkan :
o Peningkatan aktivitas kelenjar keringat dan sebasea
o Jaringan elastis kulit mudah pecah strie gravidarum
o Respon alergi kulit meningkat
- Pigmentasi : peningkatan hormon hipofise anterior melanotropin , cloasma gravidarum , bercak hiperpigmentasi kecoklatan pada kulit di daerah tonjolan maksila
- Linia Alba dan Linia nigra : pigmentasi di simpisis pubis sampai ke bagian atas fundus di garis tengah tubuh
d. SISTEM PENCERNAAN
- Peningkatan estrogen : pengeluaran asam lambung meningkat , dapat menyebabkan :
- Pengeluaran saliva meningkat ( Ptialisme )
- Daerah lambung terasa panas
- Terjadi mual, sakit kepala terutama pada pagi hari : morning sickness
- Muntah : Emesis gravidarum
- Muntah berlebihan : hiperemesis gravidarum Peristaltik usus menurun : Obstipasi / Konstipasi , aliran darah ke panggul dan tekanan vena meningkat : hemorroid
- Penurunan nafsu makan ( trimester I ) : nausea dan vomitus , peningkatan kadar hCG ( Human Chronionic Gonadotropin )
- Pruritus gravidarum ( rasa gatal yang berat ) : retensi dan akumulasi empedu di dalam hati , respon terhadap steroid plasenta
- Rasa tidak nyaman ( panggul berat / tertekan ) : pergeseran usia pembesaran uterus , peningkatan tekanan vena di dalam panggul
e. SISTEM PERKEMIHAN
- Nocturia, sering berkemih, urgency : pembesaran uterus : menekan kandung kemih : peningkatan sensitivitas kandung kemih
- Laju filtrasi glomerulus dan aliran plasenta ginjal meningkat
- Reabsorbsi glukosa di tubulus ginjal terganggu : glukosuria
f. SISTEM ENDOKRIN
- Estrogen meningkat : pertumbuhan uterus semakin besar, pembesaran mammae, peningkatan pigmentasi
- Progesteron meningkat : peningkatan sekresi, penumpukan lemak, stimulasi pusat pernafasan, penurunan motalitas gaster , penurunan tonus blass dan ureter
- hCG meningkat : pertahankan fungsi corpus luteum, regulasi produksi steroid : fetus
- Prolaktin meningkat : produksi ASI
- Oxitosin meningkat : ejeksi ASI
Selasa, 09 Maret 2010
BIMBINGAN ANTISIPASI DAN PENCEGAHAN KECELAKAAN
BIMBINGAN ANTISIPASI
DAN
PENCEGAHAN KECELAKAAN
PENGERTIAN
Bimbingan Antisipasi ( Anticipatory Guidance ) adalah bantuan perawat terhadap orang tua dalam mempertahankan dan meningkatkan kesehatan melalui upaya orang tua dalam mempertahankan dan meningkatkan kesehatan melalui upaya pertahanan nutrisi yang adekuat, pencegahan kecelakaan dan supervise kesehatan ( Maslow, 1988).
KECENDRUNGAN KECELAKAAN UNTUK ANAK TODLER
1. Mengembangkan keterampilan motorik kasar bergerak terus, berlari, berjinjit, naik turun tangga, naik pagar atau mainan serta bersepeda
2. Peningkatan kemampuan motorik halus menggenggam, membuka dan menutup botol, lemari, jendela dan pintu, menggenggam dan melempar benda-benda kecil belum tahu bahaya
3. Mempunyai rasa ingin tahu yang besar, senang mencoba sesuatu belum tahu bahaya
4. Anak laki-laki cenderung berpotensi mengalami kecelakaan lebih aktif bergerak
5. Anak yang tidak dijaga beresiko untuk mengalami kecelakaan
6. Anak lapar dan lelah kemampuan tenaga menurun + lemah _+ lesu resiko kecelakaan lebih besar
7. Asing dengan lingkungan tidak mengenal dengan baik
8. Belum berpengalaman dalam upaya melindungi diri dari bahaya kecelakaan
BAHAYA UMUM YANG DAPAT MENYEBABKAN KECELAKAAN DI RUMAH
1. Lantai rumah licin/ basah
2. Rumah dengan tangga yang curam dan tidak ada pegangan
3. Alat makan dan minum dari kaca
4. Penyimpanan obat dan zat berbahaya lainnya yang terbuka dan dapat dijangkau oleh anak
5. Sumur yang terbuka
6. Parit di depan/ di samping rumah
7. Rumah di pinggir jalan raya
8. Kompor dan alat memasak yang letakknya dapat dijangkau oleh anak
9. Kabel listrik yang berantakan dan terlalu panjang
10. Stop kontak yang tidak tertutup dan dapat dijangkau oleh anak
UPAYA PENCEGAHAN TERHADAP KECELAKAAN DI RUMAH
1. Benda tajam untuk memasak atau berkebun dapat disimpan di dalam laci
2. Benda-benda kecil harus disimpan didalam laci yang tertutup rapat dan terkunci
3. Zat yang berbahaya agar disimpan dalam lemari terkunci atau lemari khusus
4. Amankan kompor dan berikan penutup yang aman
5. Jaga lantai rumah selalu bersih dan kering
6. Pasang pintu dibagian bawah atau atas tangga dan jaga anak apabila akan naik atau turun tangga
7. Sekring listrik harus tertutup dan atur kabel supaya tidak terlalu panjang
8. Tutup dengan papan atau disemen jika ada parit didepan/samping rumah
9. Ada pintu pagar yang harus dikunci rapat jika letak rumah ditepi jalan raya
10.Buat selonsong dan tutup dengan papan/kayu/besi jika menggunakan sumur
11.Jangan tinggalkan bayi yang tidur ditempat tidur tanpa dipasang pengaman pada pinggir tempat tidur
DAN
PENCEGAHAN KECELAKAAN
PENGERTIAN
Bimbingan Antisipasi ( Anticipatory Guidance ) adalah bantuan perawat terhadap orang tua dalam mempertahankan dan meningkatkan kesehatan melalui upaya orang tua dalam mempertahankan dan meningkatkan kesehatan melalui upaya pertahanan nutrisi yang adekuat, pencegahan kecelakaan dan supervise kesehatan ( Maslow, 1988).
KECENDRUNGAN KECELAKAAN UNTUK ANAK TODLER
1. Mengembangkan keterampilan motorik kasar bergerak terus, berlari, berjinjit, naik turun tangga, naik pagar atau mainan serta bersepeda
2. Peningkatan kemampuan motorik halus menggenggam, membuka dan menutup botol, lemari, jendela dan pintu, menggenggam dan melempar benda-benda kecil belum tahu bahaya
3. Mempunyai rasa ingin tahu yang besar, senang mencoba sesuatu belum tahu bahaya
4. Anak laki-laki cenderung berpotensi mengalami kecelakaan lebih aktif bergerak
5. Anak yang tidak dijaga beresiko untuk mengalami kecelakaan
6. Anak lapar dan lelah kemampuan tenaga menurun + lemah _+ lesu resiko kecelakaan lebih besar
7. Asing dengan lingkungan tidak mengenal dengan baik
8. Belum berpengalaman dalam upaya melindungi diri dari bahaya kecelakaan
BAHAYA UMUM YANG DAPAT MENYEBABKAN KECELAKAAN DI RUMAH
1. Lantai rumah licin/ basah
2. Rumah dengan tangga yang curam dan tidak ada pegangan
3. Alat makan dan minum dari kaca
4. Penyimpanan obat dan zat berbahaya lainnya yang terbuka dan dapat dijangkau oleh anak
5. Sumur yang terbuka
6. Parit di depan/ di samping rumah
7. Rumah di pinggir jalan raya
8. Kompor dan alat memasak yang letakknya dapat dijangkau oleh anak
9. Kabel listrik yang berantakan dan terlalu panjang
10. Stop kontak yang tidak tertutup dan dapat dijangkau oleh anak
UPAYA PENCEGAHAN TERHADAP KECELAKAAN DI RUMAH
1. Benda tajam untuk memasak atau berkebun dapat disimpan di dalam laci
2. Benda-benda kecil harus disimpan didalam laci yang tertutup rapat dan terkunci
3. Zat yang berbahaya agar disimpan dalam lemari terkunci atau lemari khusus
4. Amankan kompor dan berikan penutup yang aman
5. Jaga lantai rumah selalu bersih dan kering
6. Pasang pintu dibagian bawah atau atas tangga dan jaga anak apabila akan naik atau turun tangga
7. Sekring listrik harus tertutup dan atur kabel supaya tidak terlalu panjang
8. Tutup dengan papan atau disemen jika ada parit didepan/samping rumah
9. Ada pintu pagar yang harus dikunci rapat jika letak rumah ditepi jalan raya
10.Buat selonsong dan tutup dengan papan/kayu/besi jika menggunakan sumur
11.Jangan tinggalkan bayi yang tidur ditempat tidur tanpa dipasang pengaman pada pinggir tempat tidur
Minggu, 31 Januari 2010
DAMPAK HOSPITALISASI PADA ANAK
PENGERTIAN
Hospitalisasi adalah suatu proses yang karena suatu alas an yang berencana atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di RS, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah
Perasaan yang sering muncul pada anak : Cemas, marah, sedih, takut dan rasa bersalah (Wong, 2000). Timbul karena :
* menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialaminya
* rasa tidak aman dan nyaman
* perasaan kehilangan sesuatu yang biasa dialaminya dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan
REAKSI TERHADAP HOSPITALISASI
Reaksi anak terhadap hospitalisasi
Kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh dan rasa nyeri masa bayi ( 0 - 1 tahun )
Perpisahan dengan orang tua : gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih sayang
Terjadi stranger anxiety ( usia 6 bulan ) : cemas apabila berhadapan dengan orang asing dan perpisahan
Reaksinya : menangis, marah, banyak melakukan gerakan
Masa toddler ( 2 – 3 tahun )
Sumber stress yang utama : cemas akibat perpisahan
Respon : tahap protes, putus asa dan pengingkaran
Tahap protes : menangis kuat, menjerit memanggil orang tua atau menolak perhatian yang diberikan orang lain
Tahap putus asa : menangis berkurang,anak tidak aktif, kurang menunjukkan minat bermain dan makan, sedih dan apatis
Tahap pengingkaran : mulai menerima perpisahan,membina hubungan secara dangkal, anak mulai terlihat menyukai lingkungannya
Masa prasekolah
Perawatan di RS : anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakannya aman, penuh kasing sayang dan menyenagkan
Reaksi terhadap perpisahan : menolak makan, sering bertanya, menagis secara perlahan dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan
Masa sekolah
Timbul kecemasan : berpisah dengan lingkungan yang dicintainya
Kehilangan kontrol karena adanya pembatasan aktivitas
Kehilangan kontrol : perubahan peran dalam keluarga
Anak kehilangan kelompok sosialnya karena ia biasa melakukan kegiatan bermain atau pergaulan sosial, perasaan takut mati dan adanya kelemahan fisik
Reaksi terhadap perlukaan atau rasa nyeri : ekspresi baik secara verbal maupun nonverbal : anak sudah mampu mengkomunikasikannya
Sudah mampu mengontrol perilaku jika merasa nyeri : menggigit bibir/menggigit dan memegang sesuatu dengan erat
Masa remaja
Timbul perasaan cemas : harus berpisah dengan teman sebayanya
Pembatasan aktivitas di RS :anak kehilangan kontrol terhadap dirinya dan menjadi tergantung pada keluarga atau pertugas kesehatan
Reaksi yang sering muncul : menolak perawatan atau tindakan yang dilakukan, anak tidak mau kooperatif dengan petugas kesehatan atau menarik diri dari keluarga, sesama pasien dan petugas kesehatan
Perasaan sakit : respon anak bertanya-tanya, menarik diri dari lingkungannya /
menolak kehadiran orang lain
Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi anak
1. Perasaan cemas dan takut
Perasaan cemas dan takut : mendapat prosedur menyakitkan
Cemas paling tinggi : menunggu informasi tentang diagnosa penyakit anaknya
Takut muncul : takut kehilangan anak pada kondisi sakit terminal
Perilaku : sering bertanya / bertanya tentang hal yang sama secara berulang-ulang pada orang yang berbeda, gelisah, ekspresi wajah tegang dan marah
2. Perasaan sedih
Muncul pada saat anak dalam kondisi terminal
Perilaku : isolasi, tidak mau didekati orang lain, tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan
3. Perasaan frustasi
Putus asa dan frustasi : anak yang telah dirawat cukup lama dan tidak mengalami perubahan, tidak adekuatnya dukungan psikologis
Perilaku : tidak kooperatif, putus asa, menolak tindakan, menginginkan pulang paksa
Reaksi saudara kandung terhadap hospitalisasi anak
1. Perasaan dan pikiran negatif
Anak yang lebih kecil merasa dan berpikiran negatif : kebutuhan diprioritaskan pada anak yang sakit
Reaksi yang muncul : marah, cemburu, benci dan rasa bersalah
Marah : jengkel pada orang tua yang dinilainya tidak memperhatikannya
Cemburu : orang tua lebih mementingkan saudaranya yang sakit
Benci : situasi yang dinilainya Sangay tidak menyenangkan
Rasa bersalah : anak berpikir mungkin saudaranya sakit akibat kesalahannya
Takut dan cemas : ketidaktahuan tentang kondisi saudaranya
Kesepian :situasi rumah dirasakanya tidak seperti biasanya penuh kehangatan, bercengkrama dengan orang tua dan saudaranya
INTERVENSI KEPERAWATAN DALAM MENGATASI DAMPAK HOSPITALISASI
1.Meminimalkan stresor atau penyebab stres
* Untuk mencegah atau meminimalkan dampak perpisahan :
Libatkan ortu berperan aktif dalam perawatan anak
Beri kesempatan ortu untuk melihat anak setiap saat
Modifikasi ruang perawatan : membuat situasi ruang rawat seperti di rumah
Pertahankan kontak dengahn kegiatan sekolah
* Untuk mencegah perasaan kehilangan control :
Hindari pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif terhadap petugas kesehatan
Buat jadwal kegiatan untuk proserdur terapi, latihan, bermain dan aktivbitas lain dalam perawatan
Fokuskan intervensi kep. Pada upaya untuk mengurangi ketergantungan
* Untuk meminimalkan rasa takut terhadap cedera & rasa nyeri :
Siapkan psikologis anak dan orang tua : tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri
Lakukan permainan terlebih dahulu sebelum melakukan persiapan fisik anak
Pertimbangkan untuk menghadirkan orang tua pada saat anak dilakukan tindakan
Tunjukkan sikap empati
Lakukan persiapan khusus jauh hari sebelumnya apabila memeungkinkan
2. Memaksimalkan manfaat hospitalisasi
Bantu perkembangan ortu dan anak
Beri kesempatan ortu untuk belajar tentang penyakit anak, terapi yang didapat dan prosedur keperawatan
Berikan kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan
Fasilitasi anak untuk tetap menjaga sosialisasinya sesama pasien yang ada, teman sebaya atau teman sekolah
3.Memberikan dukungan pada anggota keluarga lain
Berikan dukungan pada keluarga untuk mau tinggal dengan anak di RS
Fasilitasi keluarga untuk berkonsultasi pada psikolog atau ahli agama : keluarga mengalami masalah psikosoasial daa spiritual
Beri dukungan kepada keluarga untuk menerima kondisi anaknya dengan nilai yang diyakini
4.Mempersiapkan anak untuk mendapatkan perawatan di RS
Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahap usia dan jenis penyakit dengan peralatan yang diperlukan
Oriantasikan anak dengan situasi RS bila anak harus dirawat secara berencana
Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya
Kenalkan dengan pasien anak lain yang akan menjadi teman sekamar
Jelasakan aturan RS yang berlaku dan jadwal kegiatan yang diikuti
Laksanakan pengkajian riwayat keperawatan
Lakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lainnya
Hospitalisasi adalah suatu proses yang karena suatu alas an yang berencana atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di RS, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah
Perasaan yang sering muncul pada anak : Cemas, marah, sedih, takut dan rasa bersalah (Wong, 2000). Timbul karena :
* menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialaminya
* rasa tidak aman dan nyaman
* perasaan kehilangan sesuatu yang biasa dialaminya dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan
REAKSI TERHADAP HOSPITALISASI
Reaksi anak terhadap hospitalisasi
Kecemasan karena perpisahan, kehilangan, perlukaan tubuh dan rasa nyeri masa bayi ( 0 - 1 tahun )
Perpisahan dengan orang tua : gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih sayang
Terjadi stranger anxiety ( usia 6 bulan ) : cemas apabila berhadapan dengan orang asing dan perpisahan
Reaksinya : menangis, marah, banyak melakukan gerakan
Masa toddler ( 2 – 3 tahun )
Sumber stress yang utama : cemas akibat perpisahan
Respon : tahap protes, putus asa dan pengingkaran
Tahap protes : menangis kuat, menjerit memanggil orang tua atau menolak perhatian yang diberikan orang lain
Tahap putus asa : menangis berkurang,anak tidak aktif, kurang menunjukkan minat bermain dan makan, sedih dan apatis
Tahap pengingkaran : mulai menerima perpisahan,membina hubungan secara dangkal, anak mulai terlihat menyukai lingkungannya
Masa prasekolah
Perawatan di RS : anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakannya aman, penuh kasing sayang dan menyenagkan
Reaksi terhadap perpisahan : menolak makan, sering bertanya, menagis secara perlahan dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan
Masa sekolah
Timbul kecemasan : berpisah dengan lingkungan yang dicintainya
Kehilangan kontrol karena adanya pembatasan aktivitas
Kehilangan kontrol : perubahan peran dalam keluarga
Anak kehilangan kelompok sosialnya karena ia biasa melakukan kegiatan bermain atau pergaulan sosial, perasaan takut mati dan adanya kelemahan fisik
Reaksi terhadap perlukaan atau rasa nyeri : ekspresi baik secara verbal maupun nonverbal : anak sudah mampu mengkomunikasikannya
Sudah mampu mengontrol perilaku jika merasa nyeri : menggigit bibir/menggigit dan memegang sesuatu dengan erat
Masa remaja
Timbul perasaan cemas : harus berpisah dengan teman sebayanya
Pembatasan aktivitas di RS :anak kehilangan kontrol terhadap dirinya dan menjadi tergantung pada keluarga atau pertugas kesehatan
Reaksi yang sering muncul : menolak perawatan atau tindakan yang dilakukan, anak tidak mau kooperatif dengan petugas kesehatan atau menarik diri dari keluarga, sesama pasien dan petugas kesehatan
Perasaan sakit : respon anak bertanya-tanya, menarik diri dari lingkungannya /
menolak kehadiran orang lain
Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi anak
1. Perasaan cemas dan takut
Perasaan cemas dan takut : mendapat prosedur menyakitkan
Cemas paling tinggi : menunggu informasi tentang diagnosa penyakit anaknya
Takut muncul : takut kehilangan anak pada kondisi sakit terminal
Perilaku : sering bertanya / bertanya tentang hal yang sama secara berulang-ulang pada orang yang berbeda, gelisah, ekspresi wajah tegang dan marah
2. Perasaan sedih
Muncul pada saat anak dalam kondisi terminal
Perilaku : isolasi, tidak mau didekati orang lain, tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan
3. Perasaan frustasi
Putus asa dan frustasi : anak yang telah dirawat cukup lama dan tidak mengalami perubahan, tidak adekuatnya dukungan psikologis
Perilaku : tidak kooperatif, putus asa, menolak tindakan, menginginkan pulang paksa
Reaksi saudara kandung terhadap hospitalisasi anak
1. Perasaan dan pikiran negatif
Anak yang lebih kecil merasa dan berpikiran negatif : kebutuhan diprioritaskan pada anak yang sakit
Reaksi yang muncul : marah, cemburu, benci dan rasa bersalah
Marah : jengkel pada orang tua yang dinilainya tidak memperhatikannya
Cemburu : orang tua lebih mementingkan saudaranya yang sakit
Benci : situasi yang dinilainya Sangay tidak menyenangkan
Rasa bersalah : anak berpikir mungkin saudaranya sakit akibat kesalahannya
Takut dan cemas : ketidaktahuan tentang kondisi saudaranya
Kesepian :situasi rumah dirasakanya tidak seperti biasanya penuh kehangatan, bercengkrama dengan orang tua dan saudaranya
INTERVENSI KEPERAWATAN DALAM MENGATASI DAMPAK HOSPITALISASI
1.Meminimalkan stresor atau penyebab stres
* Untuk mencegah atau meminimalkan dampak perpisahan :
Libatkan ortu berperan aktif dalam perawatan anak
Beri kesempatan ortu untuk melihat anak setiap saat
Modifikasi ruang perawatan : membuat situasi ruang rawat seperti di rumah
Pertahankan kontak dengahn kegiatan sekolah
* Untuk mencegah perasaan kehilangan control :
Hindari pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif terhadap petugas kesehatan
Buat jadwal kegiatan untuk proserdur terapi, latihan, bermain dan aktivbitas lain dalam perawatan
Fokuskan intervensi kep. Pada upaya untuk mengurangi ketergantungan
* Untuk meminimalkan rasa takut terhadap cedera & rasa nyeri :
Siapkan psikologis anak dan orang tua : tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri
Lakukan permainan terlebih dahulu sebelum melakukan persiapan fisik anak
Pertimbangkan untuk menghadirkan orang tua pada saat anak dilakukan tindakan
Tunjukkan sikap empati
Lakukan persiapan khusus jauh hari sebelumnya apabila memeungkinkan
2. Memaksimalkan manfaat hospitalisasi
Bantu perkembangan ortu dan anak
Beri kesempatan ortu untuk belajar tentang penyakit anak, terapi yang didapat dan prosedur keperawatan
Berikan kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan
Fasilitasi anak untuk tetap menjaga sosialisasinya sesama pasien yang ada, teman sebaya atau teman sekolah
3.Memberikan dukungan pada anggota keluarga lain
Berikan dukungan pada keluarga untuk mau tinggal dengan anak di RS
Fasilitasi keluarga untuk berkonsultasi pada psikolog atau ahli agama : keluarga mengalami masalah psikosoasial daa spiritual
Beri dukungan kepada keluarga untuk menerima kondisi anaknya dengan nilai yang diyakini
4.Mempersiapkan anak untuk mendapatkan perawatan di RS
Siapkan ruang rawat sesuai dengan tahap usia dan jenis penyakit dengan peralatan yang diperlukan
Oriantasikan anak dengan situasi RS bila anak harus dirawat secara berencana
Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya
Kenalkan dengan pasien anak lain yang akan menjadi teman sekamar
Jelasakan aturan RS yang berlaku dan jadwal kegiatan yang diikuti
Laksanakan pengkajian riwayat keperawatan
Lakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lainnya
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)